Ketahui Bahwa Ilmu Pengetahuan Tidak Ada Yang Namanya Juara Satu

Ketahui Bahwa Ilmu Pengetahuan Tidak Ada Yang Namanya Juara Satu

Ketahui Bahwa Ilmu Pengetahuan Tidak Ada Yang Namnya Juara Satu

Ketahui Bahwa Ilmu Pengetahuan Tidak Ada Yang Namnya Juara Satu

 

 

Ketahui Bahwa Ilmu Pengetahuan Tidak Ada Yang Namnya Juara Satu

Ketahui Bahwa Ilmu Pengetahuan Tidak Ada Yang Namnya Juara Satu – pendapatkita.com – Berbanggalah dengan apa yang anda kerjakan. Orang harus bangga pada apa yang dikerjakannya, betapapun tidak populernya bidang ilmu atau pekerjaan yang digelutinya dari waktu ke waktu. Jangan pernah berpikir bahwa “ilmu yang aku tekuni ini tidak berarti” atau “pekerjaanku ini adalah pekerjaan yang rendah dan tidak punya nilai”.

Dalam ilmu belah diri ada namnya isitilah “duel:, yaitu pertarungan antara dua orang jago kelahi untuk menentukan siapa yang lebih hebat. Jaman dahulu, jika telah berduel. Tidak ada yang namanya juara dua, karena ketika sudah berduel pasti salah satunya akan mati sebab itu yang ada hanyalah juara pertama.

Tetapi sekarang, dalam ilmu pengetahuan yang mengandalkan kepintaran kemampuan intelek, otak bukan otot yang biasanya dilakukan atau diungkapkan dengan cara disimpan dalam tulsan tidak ada juara satu mengapa?

kehidupan ini terdiri dari berbagai macam aspek termasuk berbagai macam ilmu pengetahuan. Tidak mungkin bahwa seseorang menguasai semua aspek kehidupan. Dengan kata lain, kehidupan ini terlampai besar dan kompleks untuk dapat dikuasai oleh diri satu manusia.

Oleh karena itu, umat manusia semua bersatu supaya secara bersama-sama, dan dengan kebersamaannya tersebut dapat “memuat” kehidupan. Apalagi bersatu untuk mendapatkan ilmu pengetahuan yang kompleks,

Itu artinya bahwa satu aspek kehidupan haruslah didukung terhadap satu aspek kehidupan yang lainnya. Dalam arti yang satu membutuhkan orang lain. Tidak ada yang terbaik atau terhebat. Semuanya baik dan semuanya hebat.

Seseorang sehebat Einstein dibidang sains, Shakespeare di bidang sastra, dan Michealangelo dibidang seni rupa tetap membutuhkan individu-individu lain. Semasa hidup dan jayanya, Einstein belajar dari ilmuwan pendahulunya dan juga ilmuwan dari bidang lain, Shakespare membaca buku-buku para sejarahwan yang hidup sebelum dia dan dari situ mendapat ilham untuk menulis karya-karya utamanya seperti Rome and Juliet, Machbet, Julius Caesar.  Sementara Michealangelo harus belajar pada para empu seni lukis dan patung yang lebih senior, terutama yang mengajar,s ebelum ia sendiri menjadi seorang seniman besar.

Dengan kata lain, ketiga tokoh dunia itu tidak dilahirkan sebagai “dewa”. Mereka mulai dari anak tangga yang paling bawah. Dalam proses perkembangan mereka menjadi “orang besar” , mereka didukung oleh sekian banyak orang lain. Jadi, dalam kebesaran mereka terkandung jasa selamanya.

Oleh karena itu, mereka tidak bisa mengklaim bahwa mereka murni nomor satu.

Juga dalam bidang ilmu pengetahuan, tidak ada yang nomor satu. Karena begitu banyaknya hal-hal yang begitu komplek di dunia ini yang mustahi hanya sesorang bisa menguasi segala kemampuan pengetahuan itu,

Oleh karena itu, bukalah jendela pikiran kalian, yang akan menyadarkan bahwa untuk juga melakukan sesuatu dibutuhkannya kemampuan orang lain yang  lebih senior untuk belajar, Seperti apa yang dilakukan oleh para “dewa” pengetahuan tiga tokoh diatas. Belajarlah dari yang sudah berpengalaman sebelumnya.

Karena itu hadirlah platform para entrepreneur muda melalui pendapatkita.com mereka bisa belajar untuk menjadi tokoh-tokoh hebat selanjutnya. Karena disini adalah komunitas untuk belajar yang bermanfaat memberikan kemampuan yang diperlukan untuk saling melengkap sesama entrepreneur muda yang ingin sukses.

Orang Sukses Mencapai Hasil Jangan Kesempurnaan

Orang Sukses Mencapai Hasil Jangan Kesempurnaan

Orang sukses mencapai hasil.

Pada saaat masa pasca kemerdekaan dulu, konon suatu cerita Bung Karno pernah mengatakan bahwa bangsa yang ingin merdeka itu ibaratkan sepasang kekasih, pria dan wanita yang ingin sedang menikah.

Apabila sang kekasih menunggu sampai mereka mempunyai banyak uang untuk membangun rumah dan kemudian mengisi rumah tersebut dengan segala perabot serta alat-alat rumah tangga, maka barangkali mereka tidak akan pernah menikah.

Barangkali apa yang dikatakan Bung Karno adalah bahwa yang terpenting kita merdeka dulu, baru kemudian sedikit demi sedikit memperbaiki dan membangun negeri kita ini. Dan itulah yang terjadi. Pada saat kita merdeka, kondisi fisik dan mental bangsa kita menjadi tidak sempurna.

Disaat itu, para kawan-kawan seperjuangan dan sepikiran waktu itu tidak ingin kesempurnaan (perfection) tetapi hasil (result). Maka dengan tergesa-gesa mereka mengumumkan keberadaan atau eksistensi bangsa Indonesia. Yang akhirnya perjuangan mereka membuahkan hasil juga.

Rahasia Cerita Pelukis Terkenal Vincent van Gogh Terungkap

                                                                   sunflowers

Vincent van Gogh melukis sunflowers, salah satu dari lukisan-lukisannya yang paling terkenal di dunia. Sebanyak 4 kali, dengan kata lain lukisan tersebut tersedia dalam empat versi.

van Gogh waktu itu agaknya tidak memikirkan apakah lukisannya bisa jadi sempurna atau tidak. Ia hanya ingin menghadiahi Paul Gauguin (1848-1903), pelukis impresionis Perancis yang dikaguminya dan yang di kemudian hari mempunyai pengaruh yang cukup mendalam terhadap kehidupannya.

Ia ingin menghadiahkan sebuah lukisan bunga matahari untuk digantungkan di kamar Gauguin di rumah sewa yang diberi nama “The Yellow House” , tempat di mana van Gogh hidup dan tinggal bersama Gauguin selama tiga bulan di tahun 1888.

Van Gogh segera melukis karena ingin cepat menghasilkan lukisan. Setelah jadi, ia memberikan lukisan itu kepada sahabatnya. Bahwa kemudian ia melukis lagi objek yang sama, itu tetap membuktikan bahwa ia adalah orang yang tertarik untuk menghasilkan sesuatu tanpa memikirkan kesempurnaan karyanya. Van Gogh bahkan pernah melukis bulan sabit dengan salah. Dalam lukisannya yang berjudul Cypresses with Two Figures (1889), ia melukis matahari di sebelah kiri dan bulan sabit di sebalah kanan. Secara ilmiah hal itu salah.

Cypresses with Two Figures

 

Namun, lukisan itu diakui sebagai salah satu lukisan ekspresig yang khas van Gogh.

Prinsip van Gogh waktu itu, kalau di rumuskan kedalam bahasa aktivitas keseharian kita adalah, bahwa yang terpenting melukis dulu, kalau hasilnya tidak sempurna, tidak apa, besok bisa diulangi lagi.

Dikemudia hari, keempat lukisan sun flowersitu mempunyai nilai artistik yang tinggi, walaupun pada saat itu van Gogh tidak memikirkan kesempurnaan.

Rahasia Kesuksesan Cerita Bunda Teresa Untuk Bisa Melayani Sesama

Bunda Teresa adalah orang yang lebih berpikir tentang hasil dari pada kesempurnaan karya.

Pada tahun 1948, beliau tidak mempunyai apa-apa dalam arti kata yang sesungguhnya. Semacam AD / ART atau statua pun tidak ada, apalagi peralatan atau gedung. yang beliau punya hanyalah cinta kasih. Beliau mempunyai keinginan untuk membagikan cinta kasih beliau kepada sesamanya, terutama yang paling miskin dan dianggap sampah masyarakat. Beliau melihat ada begitu banyak anak terlantar dengan pakaian dan wajah kumuh serta tidak mengenyam pendidikan. Beliau mengajari mereka membaca dan menulis.

Temapat merekea bersekolah adalah tanah kosong yang tak bertuan, tidak ada papan tulis, apalagi meja dan kursi. Bunda Teresa menuliskan abjad dan angka yang diajarkanna di atas tanah. Tetapi dengan perbuatan  Bunda  Teresa itu membuat anak-anak kumuh yang sedang berkeliaran lebih sedikit karena sebagian telah ikut untuk bersekolah bersama Bunda Teresa.

Perjuangan hebat tanpa pamrih ini mengetuk hati orang0orang yang murah hati. Tidak lama sesudah Bunda Teresa memulai sekolahnya di pekarangan terbuka tanpa perelatan, seseorang yang bernama Michael Gomes merasa iba. Ia merelakan ruang  atas (loteng) rumahnya untuk dijadikan “gedung sekolah”.

Sesudag Michael Gomes, orang-orang lain pun ikut menyumbang meskipun ala kadarnya. Sehingga lama kelamaan Bunda Teresa mendapatkan tempat tinggal untuk mereka sendiri dan tempat untuk menampung orang-orang yang kurang mampu tersebut.

Itulah keberhasilan  Bunda Teresa. Dia mulai dengan suatu tekad dan itikad yang baik. Maka, walaupun tidak ada saran mendukung kegiatan karena adanya tekad dan itikad yang baik, beliau tetapi memulai tugasnya.

Beliau ingin segera melihat ujung hasil kebaikan hatinya, yaitu melihat anak-anak dan keluarga mereka yang miskin bisa terselamatkan dari kehancuran. Beliah sama sekali tidak memikirkan apakah segala program pelayanan cinta kasihnya itu dirumuskan dengan sempurna atau tidak. Hal-hal ini jauh dari pikiran Bunda Teresa. Yang penting bertindak dulu untuk meringankan penderitaan kaum-kaum pinggiran ini. Baginya, penyempurnaan bisa dilakukan  sambil jalan.

Kalau Hendak Berbuat Baik, Janganlah Berpikir Tentang Kesempurnaan, tetapi Orang sukses mencapai hasil.

Bertindak untuk melakukan sesuatu haruslah juga berpikir terlebih dahulu. Yang ingin dikatakan adalah bahwa kalau kita hendak berbuat baik, janganlah kita terpaku memikirkan kesempurnaan (perfection).  Pemikiran yang selalu dibayangkan terhadap Orang sukses mencapai hasil.

Kerika kita terlalu dibebani oleh kesempurnaan, maka pasti kita akan takut untuk melangkah. Hanyalah menunggu dan menunggu; menunggu saatnya sempurna, menunggu fasilitasnya sempurna, menunggu konsentrasinya sempurna, menunggu pemusatan tenaga secara sempurna, dan selalu menunggu beribu alasan kesempuraan yang berujung kita tidak menghasilkan apa pun. Karena itu ingat : Orang sukses mencapai hasi., jangan kesempurnaan !

Orang sukses mencapai hasil adalah rumus untuk mencapai kesuksesaan.

error: Content is protected !!
%d bloggers like this: